Jakarta, 5 Februari 2026 – Pasar aset kripto masih belum menemukan titik terang. Pada perdagangan hari ini, Kamis (5/2/2026), hampir seluruh aset kripto terdepan melanjutkan tren pelemahan (koreksi) yang telah berlangsung pekan ini. Situasi ini berbanding terbalik dengan data yang menunjukkan investor besar (whale) justru mulai mengakumulasi aset-aset tertentu, menandakan strategi jangka panjang di tengah ketidakpastian.
Rincian Pergerakan Harga Hari Ini
Pasar dibuka dengan sentimen negatif yang kuat. Berikut adalah rincian pergerakan beberapa aset kripto utama per 5 Februari 2026 pukul 06:45 WIB:
| Aset Kripto | Perubahan 24 Jam | Perubahan 1 Minggu | Harga per Koin (USD) |
|---|---|---|---|
| Bitcoin (BTC) | -3.46% | -17.78% | 73,250 |
| Ethereum (ETH) | -3.65% | -28.03% | Sekitar 2,154* |
| Solana (SOL) | -5.48% | -25.81% | Sekitar 1,550* |
| XRP | -3.66% | -20.17% | Sekitar 1,517* |
| Dogecoin (DOGE) | -1.60% | -16.39% | Sekitar 104* |
| *Harga dalam Rupiah dikonversi dari data Liputan6.com dengan asumsi kurs USD 1 = Rp 16,807. |
Strategi Investor Besar (Whale) di Balik Koreksi
Di balik pelemahan harga, data on-chain mengungkap aktivitas menarik dari pemilik aset kripto dengan kepemilikan sangat besar (whale). Pada Februari 2026, mereka terlihat sedang mengakumulasi atau menambah kepemilikan secara diam-diam pada aset-aset seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan Solana (SOL).
Analis memandang akumulasi ini sebagai strategi contrarian dan defensif. Para whale diyakini memanfaatkan momen koreksi harga untuk membeli aset-aset berkualitas dengan harga relatif lebih rendah, mempersiapkan portofolio untuk jangka menengah-panjang. Bitcoin, sebagai aset utama, tetap dianggap sebagai safe haven atau pelindung nilai di ekosistem kripto, meski harganya turun sekitar 40% dari puncaknya di tahun 2025.
Ironi Pasar Kripto Indonesia: Banyak Dibicarakan, Transaksi Turun
Di dalam negeri, pasar menghadapi ironi tersendiri. Riset menunjukkan percakapan mengenai kripto di media sosial Indonesia meningkat hampir 30% pada 2025. Namun, antusiasme tersebut tidak berbanding lurus dengan aktivitas transaksi, yang justru turun 25,9% menjadi Rp 482,23 triliun dibandingkan tahun sebelumnya.
Salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab adalah biaya transaksi yang belum kompetitif, berpotensi mendorong investor ke platform luar negeri. Menanggapi hal ini, bursa berjangka aset kripto CFX berencana menurunkan biaya transaksi bagi anggotanya mulai 1 Maret 2026, dari 0,04% menjadi 0,02%, untuk mendorong likuiditas di pasar domestik.
Outlook Pasar: Tahun Konsolidasi dan Penantian Katalis
Para analis memandang tahun 2026 berpotensi menjadi tahun konsolidasi dan transisi, bukan tahun euforia kenaikan harga baru. Pasar diperkirakan akan bergerak dalam rentang tertentu sambil menunggu katalis yang jelas.
- Bitcoin (BTC): Diprediksi bergerak dalam kisaran USD 70.000 – USD 110.000 sepanjang tahun, dengan dukungan adopsi institusional yang kuat.
- Ethereum (ETH): Lebih bergantung pada katalis adopsi setelah pembaruan jaringan dan perkembangan ETF spot, dengan rentang pergerakan potensial USD 2.200 – USD 4.300.
- XRP: Perkembangan regulasi dan potensi ETF menjadi penentu utama, dengan perkiraan pergerakan di kisaran USD 1,60 – USD 3,00.
Faktor makroekonomi global, seperti kebijakan suku bunga bank sentral dunia dan aliran dana institusional melalui ETF, akan terus menjadi penentu arah pasar dalam beberapa bulan ke depan.
Sumber Berita : Laporan harga pasar dari Liputan6.com per 5 Februari 2026 , analisis aktivitas whale dari Pintu News , data performa Bitcoin dari Ajaib.co .id , outlook pasar 2026 dari Indodax Academy , serta data transaksi Indonesia dari Pasardana.id .


Tinggalkan Balasan