Jakarta, 13 Februari 2026 – Dunia kripto seolah tengah berjalan di ujung tanduk. Indeks yang menjadi barometer psikologi pasar, Crypto Fear & Greed Index, hari ini Jumat (13/2/2026) ambrol hingga menyentuh angka 8 poin—level terendah yang pernah tercatat dalam sejarah aset digital modern . Angka tersebut mengonfirmasi bahwa pasar sedang berada dalam fase “Extreme Fear” alias ketakutan ekstrem, kondisi yang biasanya hanya terjadi saat kapitulasi besar-besaran.

Saking rendahnya, angka 8 ini bahkan jauh di bawah level saat pandemi 2020 atau crash Luna 2022 silam. Artinya, kata para analis, investor saat ini lebih memilih memegang uang tunai ketimbang berani menyentuh aset berisiko seperti Bitcoin dan kawan-kawannya.

Bitcoin sendiri saat ini terpantau bergulat di level US$ 66.000 hingga US$ 67.000 (sekitar Rp1,07 miliar), setelah sebelumnya sempat terperosok ke US$65.079—level terlemah pekan ini . Kapitalisasi pasar kripto global pun ikut rontok, terkoreksi hingga nyaris US$90 miliar dalam hitungan jam .

Badai Sempurna: Dari Data Tenaga Kerja AS hingga CFD

Apa yang sebenarnya terjadi? Para analis sepakat, ini bukan sekadar koreksi biasa, melainkan “badai sempurna” yang datang dari berbagai penjuru.

Pemicu utama adalah rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (Non-Farm Payrolls) yang ternyata lebih kuat dari prediksi . Data yang bagus biasanya jadi kabar baik, tapi tidak bagi kripto. Ekonomi AS yang terlalu panas justru membuat bank sentral AS (The Fed) kemungkinan besar akan menahan suku bunga lebih lama (higher for longer). Imbasnya, investor berbondong-bondong keluar dari aset spekulatif.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan bahwa penurunan kali ini lebih brutal karena dipicu aksi deleveraging di pasar derivatif.

“Open interest kontrak futures Bitcoin merosot ke level terendah sejak November 2024, yakni sekitar US$34 miliar. Ini menandakan investor institusi mulai menjauh. Ketika posisi leverage ditutup secara paksa, tekanan jual terakumulasi dalam waktu singkat dan memperdalam koreksi,” ujar Fyqieh saat dihubungi Jumat malam .

Tak hanya itu, likuidasi besar-besaran terjadi di mana-mana. Dalam dua pekan terakhir, nilai likuidasi mencapai US$5,2 miliar, membuat banyak trader “mimpi buruk” dalam semalam .

Coinbase Lapor Rugi, ETF Kebobolan US$400 Juta

Dari sisi industri, kabar buruk juga datang dari Amerika. Coinbase, bursa kripto terbesar AS, melaporkan kinerja kuartal IV yang mengecewakan. Pendapatan transaksinya jeblok di bawah US$1 miliar untuk pertama kalinya sejak 2023, dan yang lebih parah, perusahaan membukukan kerugian . Saham Coinbase yang sudah terpuruk 40% year-to-date kian tertekan.

Gigantiknya arus keluar dari produk investasi juga tak terbendung. Spot Bitcoin ETF di AS mencatatkan outflow hingga US$410,4 juta hanya dalam sehari . Dana sebesar itu kabur dari pasar, menambah derita likuiditas yang sudah menipis. Total pengelolaan aset (AUM) ETF Bitcoin kini kembali ke kisaran US$800 miliar, jauh dari puncaknya di angka US$1,7 triliun pada Oktober 2025 .

Prediksi Mengerikan dari Sang Raksasa Perbankan

Di tengah situasi mencekam ini, Standard Chartered Bank—yang notabene salah satu bank paling optimis terhadap kripto—terpaksa angkat bicara. Mereka secara dramatis memangkas target harga Bitcoin akhir tahun dari sebelumnya US$150.000 menjadi US$100.000 .

Namun yang paling bikin bulu kuduk berdiri adalah peringatan mereka: “Sebelum rebound, Bitcoin berpotensi ambrol dulu ke level US$50.000 atau sedikit di bawahnya” .

Geoffrey Kendrick, Kepala Riset Aset Digital Standard Chartered, dengan tegas menyatakan bahwa arus keluar ETF dan melemahnya kondisi makroekonomi akan terus menekan harga dalam beberapa bulan ke depan .

Ethereum pun ikut bernasib sama. Target harga ETH dipangkas dari US$7.500 menjadi US$4.000, dengan potensi koreksi lebih dalam ke angka US$1.400 terlebih dulu .

Kontras di Tengah Badai: Paus Justru Makan Siang?

Uniknya, di saat investor ritel ketakutan dan lari terbirit-birit, justru terjadi fenomena sebaliknya di lapisan atas. Data on-chain menunjukkan bahwa para investor raksasa (whale) sedang kalap “belanja”.

Tercatat, lebih dari 66.000 BTC mengalir masuk ke alamat-alamat akumulasi pada awal Februari—jumlah terbesar dalam siklus ini .

Analis Senior Reku, Fahmi Almuttaqin, melihat ini sebagai sinyal paradoks yang menarik. Menurutnya, meskipun secara teknikal Bitcoin sudah jebol di bawah support psikologis US$75.000, bahkan menembus 365-day moving average, aksi whale ini menunjukkan keyakinan jangka panjang masih utuh.

“Menjual saat Fear & Greed Index di bawah 10 adalah keputusan berisiko tinggi. Secara historis, zona extreme fear sering kali bertepatan dengan potensi terbentuknya local bottom. Jadi buat investor yang percaya tesis jangka panjang, fase ini justru bisa jadi zona akumulasi,” jelas Fahmi .

Ia menambahkan, level kritis yang perlu dijaga adalah support di US$60.000 – US$65.000. Jika area ini bertahan, peluang rebound tetap terbuka.

Regulasi Makin Panas, Indonesia Merespons?

Di tengah gejolak harga, hiruk-pikuk regulasi global juga ikut memanas. Ketua SEC AS, Paul Atkins, menyebut bahwa maraknya platform prediksi seperti Polymarket telah menjadi “masalah besar” secara regulasi . Sementara itu, CFTC baru saja membentuk komite inovasi beranggotakan bos-bos besar seperti Coinbase dan Ripple .

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Meski Bappebti belum mengeluarkan pernyataan resmi hari ini, gejolak global ini jelas mempengaruhi pasar domestik. Para trader Tanah Air diimbau untuk lebih waspada.

Analis menyarankan agar investor ritel tidak panik dan tetap disiplin. “Hindari penggunaan leverage berlebihan, dan jika ingin masuk, gunakan pendekatan dollar-cost averaging. Pasar saat ini masih tarik-menarik antara akumulasi institusional dan tekanan makro,” pungkas Fyqieh .

Dengan indeks ketakutan di angka 8, satu hal yang pasti: dunia kripto sedang memasuki ruang gelap. Namun bagi para “pemburu diskon”, mungkin di sinilah peluang emas bersembunyi. Pertanyaannya, sekuat apa nyali Anda menanti fajar di tengah badai?


0 tanggapan untuk “Gawat! Crypto Fear & Greed Index Anjlok ke Level 8, Pasar Kripto Terkapar di Zona “Extreme Fear” Terendah Sepanjang Sejarah”