JAKARTA, Rabu (26/02/2026) – Dunia kripto diguncang perang prediksi yang memecah belah komunitas investor. Di satu sisi, raksasa perbankan Standard Chartered menghancurkan harapan pemegang XRP dengan memotong target harga 65%. Di sisi lain, kecerdasan buatan milik Elon Musk justru memproyeksikan lonjakan ekstrem hingga $10. Siapa yang akan menang?
Perdebatan sengit ini meletus setelah Standard Chartered, salah satu bank terbesar di dunia, secara mengejutkan merevisi target harga XRP untuk 2026 dari $8 menjadi hanya $2.80. Pemotongan ini terjadi di tengah badai jual masif yang menghantam pasar kripto global sepanjang Februari.
Namun justru saat para investor mulai panik, Grok AI – chatbot canggih milik xAI Elon Musk – mengeluarkan prediksi yang bikin jantung berdebar: XRP bisa melonjak hingga $8 hingga $10 pada akhir 2026.

Dari Puncak ke Jurang: XRP Anjlok 60%

Realitasnya memang pahit. XRP yang sempat menyentuh all-time high di atas $3.80 kini terkapar di level $1.42, menghapus lebih dari 60% nilai dari puncaknya. Token yang diklaim sebagai “solusi pembayaran global masa depan” ini tampak kehabisan napas di tengah dominasi bear market.
Data dari CoinMarketCap menunjukkan XRP masih berjuang menembus resistance kuat di $1.45. Jika gagal, analis memperingatkan potensi koreksi lebih dalam ke $1.37, $1.20, bahkan menyentuh $1.00 psikologis.
“Ini bukan sekadar koreksi biasa. Likuiditas pasar kripto masih lesu sejak $19 miliar posisi leveraged terlikuidasi dalam sehari pada Oktober lalu,” jelas analis on-chain dari Glassnode yang dimintai tanggapannya.

Standard Chartered: Mimpi $8 Pupus?

Keputusan Standard Chartered memang menusuk hati komunitas XRP. Bank multinasional tersebut bukan sembarang lembaga – mereka termasuk institusi keuangan pertama yang berani memberi target harga kripto dengan metodologi rigor.
Dalam laporan terbarunya, Standard Chartered tidak hanya memotong target XRP, tapi juga menurunkan proyeksi Bitcoin dan Ethereum, menyitir “iklim pasar yang keras dan tantangan likuiditas.”
Namun yang menarik, pemotongan XRP justru paling besar dibanding dua koin utama lainnya. Ini mengindikasikan pergeseran persepsi institusional terhadap utilitas token yang dikembangkan Ripple Labs tersebut.
“Standard Chartered melihat ada sesuatu yang fundamental berubah. Bukan hanya soal sentimen market, tapi pertanyaan apakah XRP benar-benar akan diadopsi massal seperti yang dijanjikan selama ini,” ujar Marcus Chen, analis crypto independen dari Singapura.

Grok AI: Data Jangan Dibantah!

Sementara itu, di sudut ring berlawanan, Grok AI justru melihat peluang emas. Dalam analisis mendalam yang dipublikasikan pekan ini, sistem AI besutan Elon Musk tersebut mengidentifikasi beberapa katalis kuat:
Pertama, adopsi koridor pembayaran riil. XRP kini aktif digunakan di berbagai wilayah global, termasuk Korea Selatan di mana XRP menjadi kripto paling aktif diperdagangkan.
Kedua, ekosistem XRP Ledger (XRPL) meledak dalam tokenisasi aset dunia nyata (RWA). Bahkan utang Treasury AS dikabarkan sudah ditokenisasi di ledger ini, sementara Circle’s USDC baru saja meluncur native di XRPL.
Ketiga, kejelasan regulasi pasca penyelesaian gugatan SEC dengan denda $125 juta pada 2025. “Institusi tidak membangun infrastruktur untuk bercanda,” demikian argumen Grok yang mengutip komunitas analis XRP.
Dengan target $8-$10, Grok memprediksi potensi kenaikan 6-7 kali lipat dari harga saat ini. Ambisius? Sangat. Mustahil? Menurut AI tersebut, data on-chain tidak berbohong.

Fakta di Lapangan: ETF XRP Menyerap $1.2 Miliar

Di tengah perang prediksi, satu data nyata mencuat: XRP ETF di AS telah menyerap aliran masuk $1.2 miliar sejak diluncurkan November lalu. Lebih mencengangkan, ETF XRP mencatat 20 hari perdagangan berturut-turut dengan aliran masuk positif, sementara ETF Bitcoin justru mengalami outflow.
Data dari Bitrue menunjukkan volume pembelian retail XRP melonjak 212% antara 23-24 Februari, dengan rasio pembeli versus penjual mencapai 2:1.
“Ini bukan lagi soal spekulasi semata. Institusi sedang akumulasi diam-diam saat retail panik sell. Pola klasik smart money versus dumb money,” cuit analis terkenal @Bitcoinsensus di X yang viral dengan ribuan retweet.
Namun skeptis memperingatkan: ETF inflows yang kuat tidak serta-merta mendorong harga spot jika struktur pasar lemah. XRP masih harus menaklukkan resistance teknis berat di $1.78 dan $2.00 sebelum bisa berbicara soal all-time high baru.

Pertarungan Dua Kubu: Siapa yang Benar?

Perdebatan ini mencerminkan perpecahan fundamental dalam analisis kripto:
Kubu Konservatif (Standard Chartered & Analis Teknikal):
  • Prediksi 2026: $0.95 – $2.80
  • Fokus pada kondisi makroekonomi global, suku bunga Fed, dan risiko likuiditas
  • Melihat XRP sebagai aset spekulatif yang belum terbukti adopsi massalnya
Kubu Optimis (Grok AI & Komunitas XRP):
  • Prediksi 2026: $5 – $10
  • Fokus pada utilitas pembayaran cross-border, tokenisasi RWA, dan adopsi institusional
  • Percaya XRP akan menggantikan SWIFT sebagai jembatan likuiditas global
Dr. Andi Wijaya, pakar keuangan digital dari Universitas Indonesia, menilai kedua sisi punya argumen valid. “Standard Chartered melihat risiko sistemik dan siklus pasar. Grok AI melihat disrupti teknologi dan adopsi jaringan. Kripto unik karena bisa dihargai berdasarkan kedua metrik tersebut.”

Yang Investor Perlu Waspadai

Bagi trader dan investor di Indonesia, volatilitas XRP membuka peluang sekaligus risiko:
Peluang:
  • Harga saat ini 60% di bawah ATH, memberikan risk/reward ratio menarik untuk akumulasi jangka panjang
  • Adopsi di Asia Pasifik, termasuk kemitraan dengan bank-bank regional, terus berlanjut
  • Potensi regulasi lebih jelas via UU CLARITY di AS yang sedang dinegosiasikan
Risiko:
  • Jika jebol $1.37, XRP bisa terjun ke $1.20 atau lebih rendah
  • Sentimen pasar kripto global masih “Extreme Fear” dengan indeks Fear & Greed di level 11
  • Persaingan dari stablecoin dan CBDC (Central Bank Digital Currency) bisa mengurangi peran XRP

Update Market: Bitcoin Rebound, Altseason Delayed?

Sementara XRP berjuang, Bitcoin menunjukkan tanda kehidupan dengan rebound ke zona $66.000-$67.000. Namun analis memperingatkan ini belum tentu memicu “altseason” – musim di mana altcoin seperti XRP melonjak tajam.
“Bitcoin dominance masih tinggi. Dana mengalir ke BTC sebagai safe haven, belum ke altcoin berisiko tinggi seperti XRP,” jelas Fajar Wibowo, Head of Research di platform kripto lokal.
Kapitalisasi pasar kripto global saat ini berada di $2.27 triliun, naik 2.3% dalam 24 jam terakhir namun masih jauh dari puncak historis.

Skenario Terburuk vs Terbaik untuk XRP

Skenario Bear (Kemungkinan 40%): XRP gagal mempertahankan $1.20, terjun ke $0.95-$1.00, dan stagnan di bawah $2 hingga 2027 akibat regulasi ketat dan dominasi stablecoin.
Skenario Base (Kemungkinan 45%): XRP konsolidasi di $1.30-$2.80 sepanjang 2026, menunggu clarity regulasi dan adopsi institusional yang lebih masif.
Skenario Bull (Kemungkinan 15%): XRP menembus $2.80 pada Q3 2026, meroket ke $5-$8 di Q4 2026 jika Ripple berhasil mengamankan kemitraan bank sentral besar dan volume ODL (On-Demand Liquidity) meledak.

JAKARTA – Perang prediksi antara institusi keuangan tradisional dan kecerdasan buatan mencerminkan ketidakpastian yang masih menghantui pasar kripto. Bagi investor, ini bukan soal memilih siapa yang benar, tapi memahami risiko di kedua sisi spektrum.
Satu hal yang pasti: XRP tidak akan membosankan di tahun 2026.