JAKARTA — Di saat layar monitor para trader kripto di seluruh dunia memerah oleh aksi jual bertubi-tubi, sebuah kabar justru datang dari arah yang tak terduga. Bukan tentang token baru dengan janji keuntungan 1000 persen, melainkan tentang obligasi. Ya, surat utang. Instrumen yang selama ini dianggap ‘udik’ oleh para pemburu keuntungan instan di dunia aset digital.

Pada Kamis (19/2/2026) ini, PT Triv Investama Teknologi atau yang lebih dikenal dengan TRIV, secara resmi meluncurkan produk Tokenized Bond ETF di pasar Indonesia . Langkah ini ibarat menjembatani dua dunia yang selama ini berjalan pada rel masing-masing: alam liar kripto yang volatil dengan gedung pencakar langit Wall Street yang mapan.

“Ini bukan sekadar menambah daftar aset yang bisa diperdagangkan,” ujar Founder sekaligus CEO TRIV, Gabriel Rey, dalam keterangan resmi yang diterima media, Kamis (19/2/2026). “Ini tentang memberi jaring pengaman bagi para petualang kripto yang mulai sadar bahwa pasar tidak selalu bull.”

Strategi Defensif di Tengah Ketidakpastian Global

Peluncuran ini terjadi pada momen yang nyaris sempurna. Dari lantai perdagangan global, angin kencang sedang bertiup. Pasar kripto dunia terkontraksi 2 persen dalam 24 jam terakhir, dengan indeks CoinDesk 20 (CD20) menunjukkan pelemahan di hampir semua lini . Bitcoin (BTC) terpantau limbung di kisaran US$ 66.600, sementara Ethereum (ETH) menguji area support psikologisnya di US$ 1.950 .

Pemicunya beragam. Dari dalam negeri Amerika, risalah pertemuan The Fed terbaru menunjukkan para pejabat bank sentral mulai berselisih pendapat soal arah suku bunga, menciptakan ketidakpastian yang tak pernah disukai pasar . Dari ranah teknis, kabar mengejutkan datang dari Coinbase yang mengumumkan migrasi jaringan lapis-2 mereka, Base, keluar dari ekosistem OP Stack milik Optimism, menyebabkan token OP ambles hingga 24 persen .

Di saat badai seperti inilah, investor mulai mencari pelabuhan. Dan TRIV melihat celah itu.

Tiga Senjata dari Paman Sam

TRIV tidak asal-asalan meluncurkan produk. Mereka menghadirkan tiga varian Tokenized Bond ETF yang memungkinkan investor Indonesia, dengan hanya bermodalkan ponsel dan dompet digital, bisa mengekspos portofolionya ke pasar obligasi terbesar di dunia .

Pertama, iShares 20+ Year Treasury Bond Tokenized ETF. Produk ini memberi eksposur ke obligasi pemerintah AS tenor panjang, yang biasanya bergerak berlawanan dengan arah suku bunga. Kedua, iShares 0–3 Month Treasury Bond Tokenized ETF. Ini adalah versi tokenisasi dari instrumet jangka pendek yang cenderung lebih stabil dan minim volatilitas. Ketiga, iShares Core US Aggregate Bond Tokenized ETF, yang merupakan keranjang diversifikasi dari obligasi pemerintah dan korporasi di Amerika Serikat .

“Kami melihat kebutuhan investor yang semakin matang. Mereka sadar pentingnya diversifikasi,” tegas Gabriel Rey. Ia menambahkan, produk ini diharapkan menjadi jembatan antara dunia kripto dengan instrumen keuangan tradisional, sehingga pengguna memiliki strategi yang lebih seimbang .

Babak Baru Tata Kelola Kripto

Langkah TRIV ini tidak berdiri di ruang hampa. Sejak awal tahun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Komisi XI DPR RI terus mendorong penguatan ekosistem aset kripto yang lebih sehat dan terintegrasi . Kehadiran bursa kripto baru seperti ICEx (International Crypto Exchange) pada awal Januari lalu menjadi fondasi bagi lahirnya produk-produk inovatif namun tetap teregulasi .

Di sisi lain, bursa kripto raksasa seperti CFX (Central Finansial X) juga tak tinggal diam. Mereka baru saja mengumumkan penurunan biaya transaksi secara bertahap hingga menyentuh 0,01 persen pada Oktober mendatang, sebagai respons atas riset LPEM FEB UI yang menunjukkan 54,5 persen pengguna kripto sensitif terhadap biaya transaksi .

Yang dilakukan TRIV dengan obligasi tokenized ini adalah langkah berani di tengah tren penurunan biaya dan penguatan regulasi. Mereka tidak hanya mengejar volume, tetapi juga kedalaman pasar.

Antara Harapan dan Realitas

Tentu, membawa obligasi ke dunia kripto bukan tanpa tantangan. Edukasi menjadi PR besar. Selama ini, komunitas kripto terbiasa dengan grafik naik-turun yang curam dan mimpi “to the moon”. Membujuk mereka untuk memarkir dana di obligasi pemerintah yang return-nya mungkin hanya 4-5 persen per tahun adalah pekerjaan rumah yang tak ringan.

Namun, bagi mereka yang pernah mengalami “crypto winter” panjang, atau yang portofolionya jebol saat pasar ambrol seperti hari ini, kehadiran Tokenized Bond ETF mungkin terdengar seperti suara lonceng di tengah kabut. Sebuah pengingat bahwa tidak semua pertempuran harus dimenangkan dengan agresivitas. Kadang, bertahan adalah bentuk lain dari menang.

Di tengah deru pasar yang menderu-deru, TRIV memilih untuk berbisik. Dan di dalam bisikan itu, ada pesan yang jelas: investasi tidak melulu tentang seberapa tinggi kau terbang, tapi seberapa aman kau bisa kembali ke bumi.


0 tanggapan untuk “Di Tengah Badai Pasar Global, TRIV Buka Jalur Sutra Baru: Obligasi AS Tokenized Mulai Mengalir ke Dompet Digital Nusantara”