Tekanan datang dari dua arah sekaligus. Pasar kripto global membuka pekan ini dengan wajah suram, setelah Bitcoin (BTC) terpangkas ke kisaran US$65.633 pada perdagangan Senin pagi โ€” level terendah dalam beberapa hari terakhir โ€” seiring lonjakan harga minyak mentah dunia dan memanasnya kekhawatiran resesi Amerika Serikat yang kian tak terbendung.

Situasi ini bukan sekadar koreksi teknikal biasa. Pasar sedang memproses dua tekanan besar secara bersamaan, dan kripto menjadi salah satu aset yang paling cepat terdampak.


Harga Minyak Meroket, Bitcoin Langsung Limbung

Pada hari Senin, 9 Maret, harga minyak mentah Brent melonjak hingga US$118,73 per barel โ€” level tertinggi sejak Juni 2022. Koranpangkep Kenaikan drastis ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang terus memanas dalam beberapa pekan terakhir.

Hayden Hughes, Managing Partner Tokenize Capital, menegaskan bahwa situasi di Timur Tengah kini bukan lagi sekadar konflik militer sesaat. Menurutnya, situasi geopolitik di Timur Tengah telah melampaui satu peristiwa militer dan berubah menjadi gangguan ekonomi yang berkelanjutan. Koranpangkep

Lonjakan harga energi langsung menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi di pasar global. Sentimen risk-off menyebar cepat โ€” investor mulai menjauhi aset-aset berisiko tinggi, dan Bitcoin justru terseret arus jual meski sering digadang sebagai “emas digital.”


Data Ketenagakerjaan AS Memperburuk Segalanya

Belum reda guncangan dari sektor energi, pasar kripto kembali dihajar data tenaga kerja AS. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan angka Non-Farm Payrolls (NFP) Februari 2026 hanya sebesar 92.000 pekerja โ€” jauh di bawah proyeksi awal yang menargetkan 50.000 penambahan pekerjaan. Cuaca musim dingin ekstrem dan aksi mogok kerja di sektor layanan kesehatan menjadi faktor pemicu. Infonasional

Penurunan ini menyebabkan tingkat pengangguran di Amerika Serikat merangkak naik ke posisi 4,4 persen. Infonasional

Lebih mengkhawatirkan lagi, peluang resesi AS di 2026 telah melonjak hingga 41 persen menurut data platform prediksi Polymarket โ€” seiring meningkatnya risiko geopolitik dan volatilitas pasar global. BitcoinEthereumNews.com

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menjelaskan bahwa pelemahan harga BTC dan aset digital lainnya terjadi karena sensitivitas pasar global terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. Infonasional


Dolar Menguat, Modal Institusional Terus Mengalir Keluar

Indeks dolar AS (DXY) yang menguat juga memberikan tekanan tambahan bagi pasar kripto. Dalam satu bulan terakhir, nilai dolar meningkat 1,37 persen dan berada di level sekitar 99 pada 6 Maret 2026. Infonasional Ketika dolar dan imbal hasil instrumen keuangan menguat, investor cenderung beralih ke instrumen yang lebih aman โ€” membuat Bitcoin sebagai aset non-yielding semakin kurang menarik.

Data Bloomberg menunjukkan ETF spot Bitcoin yang terdaftar di AS mencatat arus keluar bersih hampir US$6 miliar sejak November. Koranpangkep Hughes berpendapat arus keluar tersebut mengindikasikan modal institusional masih cenderung meninggalkan pasar, bukan menunggu peluang masuk kembali.

Calvin menilai fenomena ini sebagai indikasi adanya liquidity squeeze atau tekanan likuiditas di pasar global saat ini โ€” situasi di mana investor menjual aset paling likuid untuk menambah kas atau menutup kewajiban margin, yang menyebabkan emas, saham, dan kripto bisa terkoreksi secara bersamaan. Infonasional


Peta Level Kritis Bitcoin: Ke Mana Selanjutnya?

Level US$64.000 menjadi batas penurunan terdekat yang perlu diperhatikan bagi Bitcoin. Jika level tersebut ditembus, maka level dukungan berikutnya berada di US$61.000. Sementara itu, US$68.000 menjadi level resistensi berikutnya bagi aset kripto terbesar di dunia tersebut. Koranpangkep

Secara teknikal, gambaran lebih besar cukup mengkhawatirkan. Untuk pertama kalinya sejak Maret 2022, harga Bitcoin menembus ke bawah rata-rata pergerakan 365 hari (365-day Moving Average) โ€” sebuah sinyal bearish jangka panjang. CNBC Indonesia

Namun dalam kerangka siklus empat tahunan, kondisi ini masih sejalan dengan momentum siklus Bitcoin itu sendiri, hingga berpotensi pivot pada kuartal ketiga ataupun keempat 2026 mendatang. CNBC Indonesia


Altcoin Turut Berdarah

Pelemahan tidak hanya menimpa Bitcoin. Ethereum (ETH) ambles 1,20 persen sehari terakhir dan berada di level sekitar Rp32,9 juta per koin. Binance Coin (BNB) terkoreksi 0,96 persen, sementara Cardano (ADA) melemah 1,51 persen dalam sehari dan 6,61 persen sepekan. Liputan6

Solana (SOL) pun tak luput dari tekanan meski masih mencatatkan volume perdagangan yang cukup tinggi di berbagai bursa global.


Paradoks “Emas Digital” yang Kembali Dipertanyakan

Momen ini kembali memunculkan perdebatan yang tak pernah selesai: apakah Bitcoin sejatinya bisa berfungsi sebagai safe haven layaknya emas? Data menunjukkan divergensi yang ekstrim โ€” Bitcoin turun hampir 40% dalam satu tahun terakhir, sementara emas berjangka justru melonjak 61% pada periode yang sama. CNBC Indonesia

Salah satu pukulan terberat bagi sentimen investor adalah terbuktinya kegagalan Bitcoin sebagai “Emas Digital” โ€” di tengah gejolak makroekonomi global, Bitcoin justru bergerak searah dengan aset berisiko seperti saham teknologi, bukannya berfungsi sebagai lindung nilai. CNBC Indonesia

Bagi para pendukung Bitcoin, ini bukan akhir dari narasi. Mereka berargumen bahwa adopsi institusional yang semakin matang dan siklus pasar yang berulang akan membuktikan posisi Bitcoin sebagai aset strategis jangka panjang. Namun bagi investor jangka pendek, pekan ini adalah pengingat keras: pasar kripto tidak pernah bisa dilepaskan sepenuhnya dari dinamika ekonomi makro global.


Apa yang Perlu Dipantau Pekan Ini?

Beberapa katalis penting yang akan menentukan arah pasar kripto dalam beberapa hari ke depan:

  1. Rilis data CPI AS โ€” data inflasi ini akan memberikan sinyal kuat tentang kebijakan suku bunga The Fed
  2. Perkembangan situasi geopolitik Timur Tengah โ€” eskalasi atau de-eskalasi langsung memengaruhi harga minyak dan sentimen pasar
  3. Arus dana ETF Bitcoin โ€” apakah tren arus keluar berbalik atau berlanjut
  4. Level support US$64.000 โ€” level kritis yang harus dijaga agar kepercayaan pasar tidak runtuh lebih dalam

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan di pasar aset kripto yang sangat volatil.


0 tanggapan untuk “Bitcoin Terguncang di Tengah Badai Ganda: Harga Minyak Meledak dan Hantu Resesi AS Menghantui Pasar Kripto”