Jakarta, 28 Februari 2026 โ Pasar kripto Indonesia diguncang gempa bumi finansial. Bitcoin (BTC), raja mata uang digital yang sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (All-Time High/ATH) di level $126.198 pada Oktober 2025, kini terperosok ke zona $63.000-$67.000. Artinya, dalam tempo empat bulan saja, Bitcoin telah menguap 50% nilainya, menghapuskan triliunan rupiah kapitalisasi pasar dan memicu gelombang panik di kalangan investor tanah air.
Bagi ribuan trader kripto Indonesia yang membeli BTC di puncak harga, kerugian nyata kini menggerogoti portfolio. Pertanyaan besar muncul: Apakah ini bottom, atau masih ada jurang lebih dalam? Haruskah investor melakukan panic selling, atau justru memanfaatkan momen buy the dip?
Dari Puncak ke Jurang: Kronologi Crash Bitcoin 2026
Perjalanan Bitcoin sepanjang 2026 ibarat roller coaster ekstrem. Setelah mencapai ATH $126.198 pada 14 Oktober 2025, didorong oleh euphoria pengumuman cadangan Bitcoin pemerintah Amerika dan arus masuk ETF yang masif, koreksi tak terelakkan datang.
-
Januari 2026: BTC masih bertahan di $84.000-$89.000
-
Awal Februari: Penurunan tajam ke $78.000
-
Pertengahan Februari: Flash crash ke $63.000, level terendah sejak 2024
-
Saat ini: Stabilisasi di kisaran $65.000-$67.000, namun volatilitas ekstrem
Data dari CoinMarketCap menunjukkan Bitcoin turun sekitar 20% dari level setahun lalu, mengonfirmasi bahwa bull run yang berlangsung sejak 2023 telah berakhir dan pasar memasuki fase koreksi dalam.
Mengapa Bitcoin Anjlok Drastis? Ini Penyebab Utamanya
Para analis menyoroti konvergensi faktor makroekonomi dan internal pasar yang menciptakan badai sempurna bagi Bitcoin:
1. Ketegangan Geopolitik dan Risiko Makro Konflik memanas antara AS-Iran, ditambah data inflasi Producer Price Index (PPI) AS yang lebih panas dari ekspektasi, mendorong investor menjauhi aset berisiko. Bitcoin, meski sering disebut “safe haven”, tetap berperilaku seperti aset risiko high-beta.
2. Ketidakpastian Suku Bunga The Fed Harapan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve semakin pudar. Inflasi yang persisten membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi, mengurangi likuiditas modal yang mengalir ke pasar kripto.
3. Liquidasi Massal Posisi Long Data dari Coinglass menunjukkan $252 juta posisi long dilikuidasi dalam satu hari saat BTC jatuh ke $63.000. Efek domino liquidasi memperdalam tekanan jual, menciptakan spiral bearish.
4. Korelasi dengan Saham Teknologi Bitcoin menunjukkan korelasi kuat dengan saham teknologi, terutama setelah kejatuhan Nvidia pasca-earnings. Ketika Nasdaq anjlok 2%, BTC ikut terjun bebas.
5. Profit Taking Institusional Setelah kenaikan 580% dari 2023 ke 2025, institusi besar melakukan profit taking masif. Arus keluar dari ETF Bitcoin mencapai ratusan juta dolar per minggu.
Investor Indonesia di Persimpangan Jalan: Panik atau Sabar?
Komunitas kripto Indonesia, yang jumlahnya mencapai jutaan pengguna menurut data Bappebti, kini terbagi dalam dua kubu:
Kubu Panik Selling: “Rugi 50% sudah terlalu dalam. Lebih baik cut loss sekarang sebelum nol,” ujar seorang trader di grup Telegram Crypto Indonesia. Banyak investor retail yang membeli di $100.000-an kini terjebak posisi merah dalam dan memilih keluar untuk menghindari kerugian lebih besar.
Kubu Hold dan DCA (Dollar Cost Averaging): “Ini bukan pertama kalinya Bitcoin crash 50%. Tahun 2022 juga begitu, tapi akhirnya ATH baru. Saya justru tambah beli sedikit-sedikit,” kata Andi Wijaya, investor kripto Jakarta yang mengaku telah mengakumulasi BTC sejak 2020.
Analisis Teknikal: Level Kritis yang Harus Diperhatikan
Ahli analisis teknikal memetakan level-level penting yang menentukan arah Bitcoin ke depan:
Support Levels (Level Penahan):
-
$60.000-$63.000: Support utama 2024, zona doble bottom potensial
-
$59.935: Low Februari 2026, jika jebol akan membuka jalan ke $55.000
-
$52.000-$58.000: Support berikutnya dengan 200-Week Moving Average di $55.000
-
$40.000: Support breakout pertengahan 2024, level “darurat”
Resistance Levels (Level Penahanan):
-
$70.000: Pivot momentum jangka pendek
-
$75.000: Pivot kunci jangka panjang, resistance kuat
-
$90.000-$95.000: Zona resistance pivotal sebelum kembali ke ATH
Analis populer Rekt Capital menyebut pola ini mirip “mid-cycle re-accumulation range”, di mana Bitcoin berada di tengah siklus bull run, bukan bear market. “Selama BTC bertahan di atas low terbaru dan mencetak higher-lows, struktur siklus tetap konstruktif,” jelasnya.
Prediksi Harga Bitcoin 2026: Apa Kata Para Pakar?
Scenario Bullish: Jika Bitcoin berhasil mempertahankan support $60.000-$63.000 dan menembus resistance $70.000-$75.000, analis memprediksi rebound ke $90.000-$100.000 pada Q2 2026. Rekt Capital dan CryptoJelleNL melihat indikator momentum perlahan reset, memberikan bahan bakar untuk rally baru.
Scenario Bearish: Jika $60.000 jebol, BTC bisa terjun ke $55.000 atau ekstrem ke $40.000. Beberapa analis memperingatkan kemungkinan “crypto winter” mini mirip 2022 jika kondisi makro tidak membaik.
Prediksi Konsensus: Mayoritas analis memperkirakan Bitcoin akan range-bound antara $54.000-$72.000 dalam jangka pendek, dengan volatilitas tinggi hingga situasi makro stabil.
Altcoin Ikut Berdarah: XRP, Solana, Ethereum Tak Luput
Tidak hanya Bitcoin, altcoin top juga mengalami “bloodbath”:
-
Ethereum (ETH): Turun lebih dari 4% dalam sehari, mengikuti jejak BTC
-
Solana (SOL): Koreksi tajam setelah sempat mendekati $300
-
XRP: Stabil di $2.40, namun jauh dari ATH $3.40
-
Chainlink (LINK): Masih diskon 77% dari ATH 2021
Namun, analis Nasdaq justru menunjuk XRP, Solana, dan Chainlink sebagai altcoin dengan potensi terbesar meledak di 2026, terutama jika regulasi kripto AS (CLARITY Act) disahkan. XRP diprediksi bisa mencapai $5 jika breakout dari pola bullish flag.
Strategi Cerdas untuk Investor Indonesia di Tengah Badai
Bagi Anda yang terjebak posisi merah atau berniat entry, berikut strategi dari para pakar:
1. Jangan Panik Selling di Bottom Histori menunjukkan menjual saat fear index tinggi seringkali menjadi keputusan yang disesali. Bitcoin selalu recovery dari koreksi 50% dalam siklus sebelumnya.
2. DCA (Dollar Cost Averaging) Bertahap Jika memiliki dana idle, pertimbangkan membeli sedikit-sedikit setiap penurunan $5.000. Ini menurunkan average cost basis.
3. Hold untuk Long Term Investor dengan horizon 3-5 tahun sebaiknya tidak terpengaruh noise jangka pendek. Siklus Bitcoin 4-tahun masih berlaku, dengan halving 2028 sebagai katalis berikutnya.
4. Cut Loss Disiplin (untuk Trader) Jika Anda trader dengan stop loss, patuhi rencana. Jangan biarkan rugi 50% menjadi 80%.
5. Diversifikasi ke Altcoin Fundamental Kuat XRP dengan ekosistem Ripple yang solid, Solana dengan revenue $2.85 miliar, dan Chainlink dengan tren tokenisasi aset dunia nyata (RWA) bisa jadi alternatif.
Regulasi Indonesia: Apa Kabar Bappebti dan Pemerintah?
Di tengah badai global, regulasi kripto Indonesia tetap menjadi concern. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) terus memantau pergerakan harga dan aktivitas bursa kripto berizin.
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan dikabarkan tengah menyiapkan aturan pajak kripto yang lebih jelas. Bagi investor, penting untuk selalu melaporkan kepemilikan aset kripto dan mematuhi aturan AML (Anti Money Laundering).
Kesimpulan: Winter is Coming atau Spring Akan Datang?
Crash Bitcoin 50% dari ATH adalah pengingat keras bahwa kripto tetap aset volatil berisiko tinggi. Namun, bagi yang percaya pada fundamental teknologi blockchain dan siklus historis Bitcoin, koreksi ini bisa jadi opportunity dalam kesulitan.
Level $60.000-$63.000 adalah garis pertahanan terakhir. Jika bertahan, rebound ke $90.000+ masih mungkin. Jika jebol, persiapan mental untuk $40.000 harus dilakukan.
Satu hal yang pasti: Bitcoin telah mati dikubur 469 kali menurut 99Bitcoins, namun selalu bangkit kembali. Pertanyaannya bukan apakah BTC akan recovery, tapi kapan dan apakah Anda masih ada di kapal saat itu terjadi.
Disclaimer: Artikel ini bukan saran finansial. Investasi kripto mengandung risiko tinggi. Lakukan riset mandiri (DYOR) dan hanya investasi dengan dana yang siap Anda rugi 100%.
Reporter: Tim Redaksi Crypto
Editor: kryptowaehrung365
Sumber: CoinMarketCap, CoinDesk, Yahoo Finance, Rekt Capital, CryptoJelleNL, Bappebti
Editor: kryptowaehrung365
Sumber: CoinMarketCap, CoinDesk, Yahoo Finance, Rekt Capital, CryptoJelleNL, Bappebti


0 tanggapan untuk “Bitcoin Anjlok 50 Persen dari Rekor Tertinggi, Investor Indonesia Panik Jual atau Hold? Ini Analisis Lengkap dan Prediksi Harga BTC 2026”